Kalender Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun Ajaran 2013-2014

April 15, 2014 at 10:16 am Tinggalkan komentar

Kalender Pendidikan

April 15, 2014 at 10:14 am Tinggalkan komentar

Kalender Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun Ajaran 2013-2014

Februari 20, 2014 at 5:17 am 1 komentar

Penilaian berbasis norma

PENILAIAN BERDASARKAN NORMA (NORM REFERENCED TEST – NRT)

Penilaian berdasarkan norma adalah bertujuan untuk membedakan peserta didik yang berkemampuan rendah dengan kemampuan tinggi dengan memberikan ranking penilaian secara relatif (Mcbeath,1992). Menurut Kubiszyn dan Borich (2003) penilaian acuan norma cenderung lebih umum, yang mengukur bermacam kemampuan peserta didik, karena acuan membuat soal adalah acuan umum dan lebih mempertimbangkan aspek normalitas.
PAN ialah penilaian yang membandingkan hasil belajar mahasiswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai pendekatan “apa adanya” dalam arti, bahwa patokan pembanding semat–mata diambil dari kenyataan–kenyataan yang diperoleh pada saat pengukuran/penilaian itu berlangsung, yaitu hasil belajar mahasiswa yang diukur itu beserta pengolahannya, penilaian ataupun patokan yang terletak diluar hasil–hasil pengukuran kelompok manusia.
PAN pada dasarnya mempergunakan kurve normal dan hasil–hasil perhitungannya sebagai dasar penilaiannya. Kurve ini dibentuk dengan mengikut sertakan semua angka hasil pengukuran yang diperoleh. Dua kenyataan yang ada didalam “kurve Normal”yang dipakai untuk membandingkan atau menafsirkan angka yang diperoleh masing – masing mahasiswa ialah angka rata- rata (mean) dan angka simpanan baku (standard deviation), patokan ini bersifat relatif dapat bergeser ke atas atau kebawah sesuai dengan besarnya dua kenyataan yang diperoleh didalam kurve itu. Dengan kata ain, patokan itu dapat berubah–ubah dari “kurve normal” yang satu ke “kurve normal” yang lain. Jika hasil ujian mahasiswa dalam satu kelompok pada umumnya lebih baik dan menghasilkan angka rata-rata yang lebih tinggi, maka patokan menjadi bergeser ke atas (dinaikkan). Sebaliknya jika hasil ujian kelompok itu pada umumnya merosot, patokannya bergeser kebawah (diturunkan). Dengan demikian, angka yang sama pada dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti berbeda. Demikian juga, nilai yang sama dihasilkan melalui bangunan dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti berbeda. Demikian juga, nilai yang sama dihasilkan melalui bangunan dua kurve yang berbeda akan mempunyai arti umum yang berbeda pula.
Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian siswa dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh siswa yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh siswa digunakan sebagai acuan. Pada penilaian acuan norma, keberhasilan mahasiswa ditentukan oleh kelompoknya.
Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.
Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan skor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti.
Apabila penilaian berdasarkan kriteria nilai A hanya dapat diperoleh oleh peserta tes yang menguasai 80-100% soal, maka dalam penilaian berbasis norma kemungkinan memperoleh nilai A juga bagi peserta didik yang menguasai 65-79%, karena tidak satupun di antara peseta tes yang dapat menguasai soal 80-100% itu. Jadi kondisi rata-rata peserta didik menjadi acuan untuk menetapkan ranking.
Dalam penilaian menggunakan pendekatan norma kecenderungan jumlah 1 kelas yang memperoleh nilai A adalah 10-20%, jumlah nilai siswa sedang dengan nilai C lebih besar yaitu 30-50%, dan siswa gagal dengan nilai E lebih sedikit yaitu 0-10%.
Kita menyadari bahwa kemampuan peserta didik antara satu sekolah lain adalah tidak sama. Perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor, misalnya kondisi daerah, latar belakang kehidupan orang tua, motivasi belajar siswa, fasilitas yang tersedia dan sebagainya. Oleh sebab itu pada sekolah-sekolah yang kemampuan peserta didiknya cenderung variatif pendekatan penilaian berdasarkan norma mungkin akan lebih baik.

Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah:
1. Dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa.
2. Standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya.

Contoh Rinci:
1. Sekelompok mahasiswa terdiri dari 40 orang dalam satu ujian mendapat nilai mentah sebagai berikut:
55 43 39 38 37 35 34 32
52 43 40 37 36 35 34 30
49 43 40 37 36 35 34 28
48 42 40 37 35 34 33 22
46 39 38 37 36 34 32 21

Penyebaran skor tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
No Skor Mentah Jumlah Mahasiswa Jika 55 diberi nilai 10 maka
1 55 1 10,0
2 52 1 9,5
3 49 1 9,0
4 48 1 8,7
5 46 1 8,4
6 43 3 7,8
7 42 1 7,6
8 40 3 7,3
9 39 2 7,1
10 38 2 6,9
11 37 5 6,7
12 36 4 6,5
13 35 3 6,4
14 34 4 6,2
15 33 2 6,0
16 32 2 5,8
17 30 1 5,5
18 28 1 5,1
19 22 1 4,0
20 21 1 3,8
Jumlah Mahasiswa 40

Jika skor mentah yang paling tinggi (55) diberi nilai 10 maka nilai untuk :
52 adalah (52/55) x 10 = 9,5
49 adalah (49/55) x 10 = 9,0 dan seterusnya
2. Bila jumlah pesertanya ratusan, maka untuk memberi nilainya menggunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata kelompok dan simpangan baku kelompok (mean dan standard deviation) sehingga akan terjadi penyebaran kemampuan menurut kurva normal.

Menurut distribusi kurva normal, sekelompok mahasiswa yang memiliki skor di atas rata-rata 60 dalam kelompok itu adalah:
60 sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 34,13%
(60 + 1 S.B.) sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 13,59%
(60 + 2 S.B.) sampai dengan (60 + 3 S.B.) adalah 2,14%
Begitu juga dengan mahasiswa yang memiliki skor 60 ke bawah, adalah:
60 sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 34,13%
(60 – 1 S.B.) sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 13,59%
(60 – 2 S.B.) sampai dengan (60 – 3 S.B.) adalah 2,14%
Dengan kata lain mahasiswa yang mendapat skor antara (+1 S.B. s.d. -1 S.B.) adalah 68,26%, yang mendapat skor (+2 S.B. s.d. -2 S.B.) adalah 95,44%.
Dengan demikian dapat dibuat tabel konversi skor mentah ke dalam nilai 1-10.
Skor Mentah Nilai 1 – 10
Skor rata-rata +2,25 S.B.
Skor rata-rata +1,75 S.B.
Skor rata-rata +1,25 S.B.
Skor rata-rata +0,75 S.B.
Skor rata-rata +0,25 S.B.
Skor rata-rata -0,25 S.B.
Skor rata-rata -0,75 S.B.
Skor rata-rata -1,25 S.B.
Skor rata-rata -1,75 S.B.
Skor rata-rata -2,25 S.B. 10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Contoh simpel:
1. Satu kelompok peserta tes terdiri dari 9 orang mendapat skor mentah:
50, 45, 45, 40, 40, 40, 35, 35, 30
Dengan menggunakan pendekatan PAN, maka peserta tes yang mendapat skor tertinggi (50) akan mendapat nilai tertinggi, misalnya 10, sedangkan mereka yang mendapat skor di bawahnya akan mendapat nilai secara proporsional, yaitu 9, 9, 8, 8, 8, 7, 7, 6
Penentuan nilai dengan skor di atas dapat juga dihitung terlebih dahulu persentase jawaban benar. Kemudian kepada persentase tertinggi diberikan nilai tertinggi.

Referensi

Anwar, Syafri. 2009. Penilaian Berbasis Kompetensi, Padang: UNP Press.
Fatur Rahman Harun. 2004. Penilaian dalam pendidikan, Medan: USU.
Tatag Yuli Eko Siswono. 2004. Model Penilaian Mata Pelajaran Matematika Untuk Sekolah Kejuruan, Surabaya: Lembaga Pengabdian Masyarakat Unesa.
Sumber dari internet yang mengacu pada kurikulum 1975.

Maret 6, 2010 at 4:14 am Tinggalkan komentar

SOAL UJIAN SEMESTER GEOGRAFI DESA KOTA

UJIAN SEMESTER GEOGRAFI DESA KOTA

1. Wilayah pedesaan Sumatera barat mempunyai fungsi yang besar dalam perkembangan kota padang. Jelaskan dengan contoh kenapa demikian?

Fungsi desa sebagai berikut :

  1. Desa sebagai Hinterland (pemasok kebutuhan bagi kota).

Kota tidak dapat hidup tanpa adanya desa. Desa memasok kebutuhan pangan masyarakat kota dan kebutuhan lainnya yang diimpor dari desa yang tidak dapat dihasilkan di kota.

Contohnya saja kota Padang banyak memasok sayur dari pedesaan sumatera barat, kelapa dari desa-desa di pariaman, beras dari berbagai penjuru desa di sumatera barat, dll.

  1. Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan.

Begitu banyak faktor yang mempengaruhi urbanisasi masyarakat desa ke kota, baik dipengaruhi oleh faktor penarik atau pendorong. Apalagi masyarakat minang kabau terkanal dengan jiwa merantaunya, tetapi karena di desa umumnya pendidikan masyarakatnya rendah di bandingkan di kota. Maka ketika mereka sampai di kota mereka hanya menjadi tenaga kerja kasar. Contohnya kuli bangunan, tukang angkat barang atau bisa di sebut pekerjaan yang mementingkan otot dari pada otak.

  1. Desa merupakan mitra bagi pembangunan kota.

Pembangunan di kota padang tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya bantuan dari desa. Baik bantuan dari tenaga kerja, pemasok kebutuhan atau jasa-jasa lain yang diberikan desa demi lancarnya pembangunan di kota padang.

2. Untuk menentukan potensi nagari, dilakukan penilaian aspek alam, penduduk, dan kelembagaan. Jelaskan apakah ketiga aspek tersebut beserta indikatornya sudah mengambarkan seluruh potensi geografis yang ada!

Menurut pendapat saya ketiga aspek tersebut tersebut beserta indikatornya sudah mengambarkan seluruh potensi geografis yang ada!

Dua macam Potensi Desa yaitu:

  1. Potensi fisik yang meliputi, tanah air, iklim dan cuaca, flora dan fauna
  2. Potensi non fisik, meliputi; masyarakat desa, lembaga-lembaga sosial desa, dan aparatur desa, jika potensi dimanfaatkan dengan baik, desa akan berkembang dan desa akan memiliki fungsi, bagi daerah lain maupun bagi kota.

3. Sejak dibangunnya jalan dua jalur Padang – Duku – BIM, banyak bermunculan permukiman dan jasa lainnya di kiri kanan jalan. Jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan tersebut!

Faktor aksebilitas begitu sangat berperan dalam mulculnya pemukiman. Dari contoh diatas dapat kita ambil kesimpulan, ketika di bangun jalan jalur Padang – Duku – BIM, banyak bermunculan pemukiman dan jasa lainnya di kiri kanan jalan, hal ini di karenakan begitu besarnya pengaruh sebuah jalan bagi pertumbuhan pemukiman dan jasa lainnya. Jalan yang menghubungkan satu daerah dengna daerah lainnya menyebabkan lahirnya bentuk pemukiman yang memanjang disekitar jalan antara Padang – Duku – BIM, yang kemudian tumbuh menjadi menjadi suatu wilayah transisi dari dua wilayah tersebut.

4. Jelaskan beda antara teori konsentris, sektor dan pusat lipat ganda, baik dari segi kenampakkan keruangannya, karakteristik masing-masing zonanya, maupun dari segi nilai tanah pada masing-masing zona!

1. Menurut Teori Konsentris (Burgess,1925) DPK atau CBD adalah pusat kota yang letaknya tepat di tengah kota dan berbentuk bundar yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu kota. DPK atau CBD tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu: pertama, bagian paling inti atau RBD (Retail Business District) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa; kedua, bagian di luarnya atau WBD (Wholesale Business District) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi skala besar, seperti pasar, pergudangan (warehouse), dan gedung penyimpanan barang supaya tahan lama (storage buildings).

2. Menurut Teori Sektoral (Hoyt,1939) DPK atau CBD memiliki pengertian yang sama dengan yang diungkapkan oleh Teori Konsentris.

3. Menurut Teori Pusat Berganda (Harris dan Ullman,1945) DPK atau CBD adalah pusat kota yang letaknya relatif di tengah-tengah sel-sel lainnya dan berfungsi sebagai salah satu “growing points”. Zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, berupa pusat fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik spesialisasi pelayanan, seperti “retailing” distrik khusus perbankan, teater dan lain-lain (Yunus, 2000:49). Namun, ada perbedaan dengan dua teori yang disebutkan di atas, yaitu bahwa pada Teori Pusat Berganda terdapat banyak DPK atau CBD dan letaknya tidak persis di tengah kota dan tidak selalu berbentuk bundar.

2.2.1 Teori Tempat Pemusatan

Suatu tempat merupakan pusat pelayanan. Menurut Christaller, pusat-pusat pelayanan cenderung tersebar di dalam wilayah menurut pola berbentuk heksagon (segi enam). Keadaan seperti itu akan terlihat dengan jelas di wilayah yang mempunyai dua syarat: (1) topografi yang seragam sehingga tidak ada bagian wilayah yang mendapat pengaruh dari lereng dan pengaruh alam lain dalam hubungan dengan jalur pengangkutan, (2) kehidupan ekonomi yang homogen dan tidak memungkinkan adanya produksi primer, yang menghasilkan padi-padian, kayu atau batu bara.

Dalam keadaan yang mempunyai kedua syarat seperti di atas itu akan berkembang tiga hal (Jayadinata, 1999:180) seperti diterangkan di bawah ini.

  1. Ajang jasa (ajang niaga) akan berkembang secara wajar di seluruh wilayah dengan jarak dua jam berjalan kaki atau 2 x 3,5 = 7 km. Secara teori tiap pusat pelayanan melayani kawasan yang berbentuk lingkaran dengan radius 3,5 km (satu jam berjalan kaki), jadi pusat wilayah layanan akan terletak di pusat kawasan tersebut. Teori ini disebut teori tempat pemusatan (central place theory).
  2. Kawasan-kawasan berbentuk lingkaran yang saling berbatasan, walaupun bentuk lingkaran adalah paling efisien, akan mempunyai bagian-bagian yang bertumpang tindih atau bagian-bagian yang senjang (kosong), sehingga bentuk lingkaran itu tidak biasa digunakan untuk kawasan atau wilayahnya. Berhubung dengan itu Christaller mengemukakan bahwa pusat pelayanan akan berlokasi menurut pola heksagon, sehingga wilayah akan saling berbatasan tanpa bertumpang tindih.
  3. Dalam wilayah akan berkembang ajang niaga dalam pola heksagon. Yang palng banyak adalah dusun-dusun sebagai pusat perdagangan yang melayani penduduk wilayah pedesaan. Satu dusun dengan dusun lainnya akan menempuh jarak 7 km.

Dalam asumsi yang sama dengan Christaller, Lloyd (Location in space, 1977) melihat bahwa jangkauan/luas pelayanan dari setiap komoditas itu ada batasnya yang dinamakan range dan ada batas minimal dari luas pelayanannya dinamakan threshold. (Tarigan, 2006:79)

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan model Christaller tentang terjadinya model area pelayanan heksagonal sebagai berikut: (Tarigan, 2006:80)

  1. Mula-mula terbentuk area pelayanan berupa lingkaran-lingkaran. Setiap lingkaran memilik pusat dan menggambarkan threshold. Lingkaran-lingkaran ini tidak tumpang tindih seperti pada bagian A dari Gambar 2.3.
  1. Kemudian digambarkan lingkaran-lingkaran berupa range dari pelayanan tersebut yang lingkarannya boleh tumpang tindih seperti terlihat pada bagian B.
  2. Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal yang menutupi seluruh dataran yang tidak lagi tumpang tindih, seperti terlihat pada bagian C.

4. Tiap pelayanan berdasarkan tingkat ordenya memilik heksagonal sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k=3, pelayanan orde I lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde II. Pelayanan orde II lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde III, dan seterusnya. Tiap heksagonal memiliki pusat yang besar kecilnya sesuai dengan besarnya heksagonal tersebut. Heksagona yang sama besarnya tidak saling tumpang tindih, tetapi antara heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih, seperti terlihat pada bagian D.

2.2.2 Pola Tata Guna Tanah Perkotaan

Dalam pola tata guna tanah perkotaan yang berhubungan dengan nilai ekonomi, terdapat beberapa teori sebagai berikut:

2.2.2.1 Teori Jalur Sepusat

Teori jalur sepusat atau Teori Konsentrik (Consentric Zone Theory) E.W. Burgess, mengemukakan bahwa kota terbagi sebagai berikut: (Jayadinata, 1999:129)

(1) Pada lingkaran dalam terletak pusat kota (central business district atau CBD) yang terdiri atas: bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, dan toko pusat perbelanjaan;

(2) Pada lingkaran tengah pertama terdapat jalur alih: rumah-rumah sewaan, kawasan industri, perumahan buruh;

(3) Pada lingkaran tengah kedua terletak jalur wisma buruh, yakni kawasan perumahaan untuk tenaga kerja pabrik;

(4) Pada lingkaran luar terdapat jalur madyawisma, yakni kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja halus dan kaum madya (middle class);

(5) Di luar lingkaran terdapat jalur pendugdag atau jalur pengelajon (jalur ulang-alik); sepanjang jalan besar terdapat perumahan masyarakat golongan madya dan golongan atas atau masyarakat upakota.

2.2.2.2 Teori Sektor

Teori sektor (Sector Theory) menurut Humer Hoyt yang mengatakan bahwa kota tersusun sebagai berikut: (Jayadinata, 1999:130)

(1) Pada lingkaran pusat terdapat pusat kota;

(2) Pada sektor tertentu terdapat kawasan industri ringan dan kawasan perdagangan;

(3) Dekat pusat kota dan dekat sektor tersebut di atas, pada bagian sebelah menyebelahnya, terdapat sektor murbawisma, yaitu kawasan tempat tinggal kaum murba atau kaum buruh;

(4) Agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan, terletak sektor madyawisma;

(5) Lebih jauh lagi terdapat sektor adiwisma, kawasan tempat tinggal golongan atas.

2.2.2.3 Teori Pusat Lipatganda

Teori pusat lipatganda (Multiple Nuclei Concept) menurut R. D. Mc Kenie menerangkan bahwa kota meliputi: pusat kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian, dan pusat lainnya. Teori ini umumnya berlaku untuk kota-kota yang agak besar. Menurut teori ini kota terdiri atas: (Jayadinata, 1999:132)

(1) Pusat kota atau CBD;

(2) Kawasan niaga dan industri;

(3) Kawasan murbawisma, tempat tinggal berkualitas rendah;

(4) Kawasan madyawisma, tempat tinggal berkualitas menengah;

(5) Kawasan adiwisma, tempat tinggal berkualitas tinggi;

(6) Pusat industri berat;

(7) Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran;

(8) Upakota, untuk kawasan madyawisma dan adiwisma;

(9) Upakota (suburb) untuk kawasan industri.

5. Setelah dilakukan observasi tentang pengertian kota secara morfological dan yuridis administratif. Jelaskan kesimpulan apa yang dapat ditemukan dari kota padang!

Yuridis

Kota Padang berkembang dari kota pendidikan dikarenakan sebahagian besar dari penduduknya sadar akan pendidikan baik yang terdaftar disekolah ,diperguruan tinggi atau akademi lainnya,dan banyaknya terdapat instansi pendidikan dikota  Padang membuat kota Padang memiliki julukan kota yuridis dengn memiliki 3 Universitas negeri yang terkenal di Indonesia.

Administratif

Kota Padang merupakan suatu ibu kota dari Provinsi Sumatera Barat,dikarenakan Pad ang memiliki tempat yang cocok untuk tempat berdirinya pusat dari kegiatan disemua bidang. Semua urusan yang berada didalam Provinsi Sumatera Barat berpusat dikota Padang dan juga merupakan daerah tingkat dua wilayah Indonesia.

6. Jelaskan bagaimana kecenderungan masyarakat dalam memanfaatkan pusat-pusat pelayanan ekonomi yang ada (pola belanja)!

Setiap pusat pelayanan ekonomi memiliki ambang batas minimum pasar (threshold) yaitu penduduk atau jumlah pembelian minimum yangmendukung adanya fungsi perdagangan.

Jarak minimum pencapaian konsumen untukmau berbelanja (range).

  • Setiap pusat melayaniperbelanjaan barang-barang tertentuyang membentuk hirarki permukiman.
  • Semakin besar pusat semakin sedikit jumlahnya
  • Semakin besar pusat maka semakin jauh jarak antaranya
  • Ketika penduduk di pusat dan di wilayah bertambah atau kesejahteraan meningkat maka jumlah pelayanan barang dan jasa dalam tingkatan lebih tinggi bertambah (hugher order services) dan jarak pencapaian pun (range) bertambah.

Contoh: Barang kebutuhan harian, pakaian sehari-hari

Pusat dan wilayah hinterlandnya dalam model ideal berupa bentuk heksagonal, dan setiap pusat dikitari oleh enam pusat lebih kecil yang terdapat pada sudut hexagonal.

7. Menurut Turner ada tiga klasifikasi masyarakat yang bertempat tinggal di kota

  • Jelaskan ketiga kelas masyarakat tersebut!
  • Menurut teori perkembangan kota, pada zona mana saja lapisan masyarakat tersebut bertempat tinggal dan jelaskan kenapa demikian!

Menurut John Turner (1968) teori “recidential mobility” ada tiga stratum sosial masyarakat yang tinggal di kota berdasarkan lamanya tinggal di kota:

  • Bridge headers (golongan yang baru datang di kota atau recent arrivals in the city). Berpenghasilan rendah terdiri dari pasangan keluarga mudaatau bujangan, belum punya rumah sendiri.
  • Cosodilators, golongan yang sudah agak lama tinggal di kota
  • Status seekers. Golongan yang sudah lama di kota atau yang mapan

Zona lapisan masyarakat tersebut adalah terletak pada zona daerah permukiman kelas rendah, zona permukiman kelas sedang,  dan zona permukiman kelas tinggi. Dikarenakan masyarakat bertempat tinggal di daerah peralihan yang merupakan zona peralihan dari permukiman ke perdagangan.

8. Jelaskan pengertian urbanisasi dari tinjauan kota secara individual maupun kota secara integral!

  • Urbanisasi dari tinjauan kota secara individual adalah

Gerak horizontal penduduk mengalirnya penduduk perdesaan kekota

Gerak horizontal keruangan (urban sprawl atau urban extension atau pemekaran

kota secara alami). Perubahan fungsi dan kualitas daerah perdesaan di sekitar pinggir kota dan berubah fungsinya menjadi darah perkotaan akibat penjelasan kota secara fisik (konsentris, lenier, pembentukan meloncat atau checkerboard).

  • Pengertian urbanisasi dari tinjauan secara integral adalah

Dari existensi kota secara integraldalam suatu wilayah kota-kota. Tinjauan ini melibatkan kota-kota dalam suatu wilayah, ukuran urbanisasi adalah:

Rasio antara penduduk yang tinggal didaerah perkotaan dengan jumlah keseluruhan penduduk yangtinggal di wilayahtertentu tempat kota tersebut berada di Negara X kotanya lebih banyak dan penduduk yang tinggal di perkotaan juga banyak, tetapi tinkat urbanisasinya lebih rendah.

9. Buatlah drag proposal kasar tentang topik desa kota meliputi judul, latar belakang, permasalahan dan tujuan.

Judul:    POTENSI NAGARI DALAM MENENTUKAN TINGKAT PERKEMBANGAN NAGARI DI KENAGARIAN KOTO KACIAK KECAMATAN TANJUNG RAYA

    1. Latar Belakang

Kenagarian Koto Kaciak memiliki banyak potensi, Potensi fisik yang meliputi, tanah air, iklim dan cuaca, flora dan fauna dan Potensi non fisik, meliputi; masyarakat desa, lembaga-lembaga sosial desa, dan aparatur desa, jika potensi tersebut dapat dimaksimalkan maka akan menjadi kenagarian yang maju.

    1. Permasalahan
      1. Rumusan masalah

Sesuai dengan latar belakang penelitian, maka Rumusan masalahnya adalah Apakah dan bagaimanakah potensi nagari dalam menentukan tingkat perkembangan nagari di Kenagarian Koto Kaciak.

      1. Batasan malah
        1. pengertian potensi.
        2. macam-macam potensi di Kenagarian Koto Kaciak.
        3. Tingkat perkembangan nagari
    1. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi dan pengetahuan bagi pembaca mengenai potensi – potensi di Kenagarian Koto Kaciak dan tingkat perkembangan Nagari Koto Kaciak.

DAFTAR PUSTAKA

Daljoeni,drs,N. 2003. Geografi Desa dan Kota. Bandung: PT. Alumni.

Geografi kelas II SMA. Intan Pariwara.

Hand out Geografi Desa dan Kota. Padang: FIS UNP.

J.T, Jayadinata. 1992. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan, dan Wilayah. Bandung: ITB.

Juni 20, 2009 at 6:00 am Tinggalkan komentar

MAKALAH DEMOGRAFI FERTILITAS DI KECAMATAN TANJUNG RAYA 2006

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Fertilitas merupakan kajian yang menarik untuk di bahas, karena dari fertilitas inilah pemerintah dapat menentukan tindakan pembangunan untuk masa yang akan datang. Pemakalah begitu tertarik untuk menyajikan fertilitas di Kecamatan Tanjung Raya karena Pemakalah sendiri berasal dari Kecamatan Tanjung Raya.

Kecamatan Tanjung Raya merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat. Kecamatan Tanjung Raya terdapat di sekeliling Danau Maninjau. Berikut ini adalah keterangan mengenai Kecamatan Tanjung Raya :

    1. Letak Astronomis : 100º05’ BT – 100º16’ BT dan 0º12’ LS – 0º25’ LS
    2. Batas Wilayah      :
  1. Sebelah Utara    : Kec. Palembayan
  2. Sebelah Timur   : Kab. Padang Pariaman
  3. Sebelah Selatan : Kec. Lubuk Basung dan Kab. Padang Pariaman
  4. Sebelah Barat    : Kec. Matur dan Kec. IV Koto
    1. Ketinggian dari Permukaan Laut : 471 m
    2. Luas Kecamatan   : 150,76 Km2
    3. Luas Danau           :  9950 Ha

Fertilitas merupakan kemempuan berproduksi yang sebenarnya dari penduduk ( actual reproduction performance). Atau jumlah kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang atau sekelompok perempuan.

Pemakalah ingin menyajikan hal-hal yang berhubungan dengan fertilitas di Kecamatan Tanjung Raya berdasarkan data – data yang di dapat di BPS, buku di Perpustakaan dan sumber-sumber lainnya. Maka pemakalah mengangkatnya dalam makalah yang berjudul “Fertilitas di Kecamatan Tanjung Raya Tahun 2006”.

  1. Rumusan dan Batasan Masalah

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Bagaimana fertilitas di Kecamatan Tanjung Raya tahun 2006 dan hal-hal yang berhubungan dengan fertilitas tersebut.

  1. 2. Batasan Masalah
    1. Pengertian Fertilitas,
    2. Hal-hal yang berhubungan dengan fertilitas.
    3. Jumlah Penduduk dan Data Fertilitas.
    4. Parameter Fertilitas.
  1. Tujuan Penulisan

a. Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua.

b. Sebagai tugas untuk memenuhi salah satu syarat lulus mata kuliah Demografi.

c. Menambah kemampuan bagi pemakalah dalam menulis makalah.

  1. Metode Penulisan

Penulis mempergunakan metode observasi dan kepustakaan. Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah : Studi Pustaka Dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini.Serta berdasarkan data sekunder dari BPS dan sumber – sumber lainnya yang menunjang.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Fertilitas

Fertilitas merupakan kemempuan berproduksi yang sebenarnya dari penduduk ( actual reproduction performance). Atau jumlah kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang atau sekelompok perempuan.

Kelahiran yang dimaksud disini hanya mencakup kelahiran hidup, jadi bayi yang dilahirkan menunjukan tanda-tanda hidup kendatipun hanya sebentar dan terlepas dari lamanya bayi itu dikandung.

Pengertian ini agar dibedakan dengan kesuburan (fecundity) yang menyatakan kemampuan secara fisiologis untuk melahirkan. Jadi kesuburan menyatakan potensi, amat sulit ditentukan, sedangkan fertilitas mengenai kelahiran sesungguhnya seperti yang diukur dalam statistik kelahiran.

  1. B. Istilah yang Berkaitan dengan Fertilitas
    1. 1. Fekunditas (fecundity)

Fekunditas menyangkut kemampuan bilogis perempuan untuk menghasilkan anak lahir hidup atau lawan kata sterilisasi.

  1. 2. Lahir Hidup (live birth)

Suatu kelahiran bayi menunjukan tanda-tanda kehidupan. Seperti bernafas, denyut nadi, menangis, tanpa memperhitungkan lamanya dalam kandungan.

  1. 3. Lahir Mati (still birth)

Kelahiran seorang bayi dengan umur kandungan paling sedikit 28 minggu (7 bulan), tanpa tanda-tanda kehidupan.

  1. 4. Abortus

Kematian janin dengan umur kandungan kurang dari 28 minggu.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat kelahiran
  • Kebijakan pro-natalis dan anti-natalis dari pemerintah
  • Tingkat aborsi
  • Struktur usia-jenis kelamin yang ada
  • Kepercayaan sosial dan religius – terutama berhubungan dengan kontrasepsi
  • Tingkat buta aksara pada wanita
  • Kemakmuran secara ekonomi (walaupun pada teorinya ketika sebuah keluarga memiliki ekonomi yang baik, mereka mampu untuk membiayai lebih banyak anak, dalam praktiknya kemakmuran ekonomi dapat menurunkan tingkat kelahiran)
  • Tingkat kemiskinan – anak-anak dapat dijadikan sumber ekonomi pada negara berkembang karena mereka bisa menghasilkan uang (tenaga kerja anak)
  • Angka Kematian Bayi – sebuah keluarga dapat mempunyai lebih banyak anak jika angka kematian bayi (Infant Mortality Rate / IMR) tinggi.
  • Urbanisasi
  • Homoseksualitas – pria dan wanita homoseksual hampir seluruhnya tidak menjadi ayah dan ibu, mengurangi angka kelahiran tiap tahunnya.
  • Usia pernikahan
  • Tersedianya pensiun
  • Konflik
  1. D. Gambaran Jumlah Penduduk dan Data Fertilitas

1. Jumlah Penduduk Menurut Kenagarian

No.

Nagari

Laki – laki Perempuan Jumlah
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Tanjung Sani

Sungai Batang

Maninjau

Bayur

Duo Koto

Paninjauan

Koto Kaciak

Koto gadang

Koto Malintang

2.044

1.903

1.116

2.522

1.227

1.212

1.825

934

1.443

2.930

2.166

1.156

1.068

1.371

1.415

1.818

1.110

1.573

4.974

4.096

2.272

3.590

2.598

2.627

3.643

2.044

3.016

Jumlah

14.226

14.607

28.833

2. Jumlah Penduduk Menurut Umur

No. Golongan Umur Laki-laki perempuan Jumlah
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 34

35 – 39

40 – 44

45 – 49

50 – 54

55 – 59

60 – 64

65 – 69

70 – 74

75 +

1.651

1.673

1.768

1.564

943

885

838

885

850

760

546

450

471

356

314

272

1.489

1.518

1.592

1.565

992

955

877

941

868

775

559

534

574

474

441

453

3.140

3.191

3.360

3.129

1.935

1.840

1.715

1.826

1.718

1.535

1.105

984

1.045

830

755

752

Jumlah

14.226

14.607

28.833

3. Jumlah Kelahiran dan Kematian Serta Kematian Ibu Waktu Melahirkan.

No. Jenis Kejadian Jumlah
1.

2.

3.

Bayi Lahir Hidup

Bayi Lahir Meninggal

Kematian Ibu Melahirkan

456

5

-

  1. E. Parameter Fertilitas
    1. Angka Fertilitas Kasar / Crude Birth Rate (CBR)

Tingkat kelahiran bayi tanpa melihat golongan dan umur.

  1. Angka Fertilitas Umum / General Fertility Rate (GFR)

General fertility rate (GFR) – mengukur angka kelahiran tiap 1.000 wanita yang berusia 15 – 45 tahun.

  1. Rasio Anak Terhadap Perempuan Usia Subur / Child Woman Ratio (CWR)

BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Fertilitas merupakan kemempuan berproduksi yang sebenarnya dari penduduk ( actual reproduction performance). Atau jumlah kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang atau sekelompok perempuan.

Kelahiran yang dimaksud disini hanya mencakup kelahiran hidup, jadi bayi yang dilahirkan menunjukan tanda-tanda hidup kendatipun hanya sebentar dan terlepas dari lamanya bayi itu dikandung.

Pengertian ini agar dibedakan dengan kesuburan (fecundity) yang menyatakan kemampuan secara fisiologis untuk melahirkan. Jadi kesuburan menyatakan potensi, amat sulit ditentukan, sedangkan fertilitas mengenai kelahiran sesungguhnya seperti yang diukur dalam statistik kelahiran.

  1. B. Saran
    1. Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat mengambil intisari atau pelajaran dari makalah ini.
    2. Diharapkan kepada penulis supaya lebih rajin lagi dalam membuat makalah.
    3. kepada dosen dan pembaca memberikan kritik dan saran terhadap makalah ini.

Sekian, Terima Kasih

DAFTAR PUSTAKA

Suasti, Yurni. 2006. Hand Out Mata Kuliah Demografi. Padang: UNP.

Sembiring, BK. 1985. Demografi. Jakarta: FPS IKIP Jakarta.

Barclay, George W. Teknik Analisa Kependudukan. Jakarta: Bina Aksara.

BPS. 2006. Kabupaten Agam Dalam Angka 2006. Padang: BPS.

Dan sumber-sumber dari internet.

Juni 17, 2009 at 7:03 pm 5 komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Juni 9, 2009 at 3:56 am 3 komentar


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.